Sabtu, 06 September 2008

Puisi-puisi Sayyid Madany Syani

CANGKLONG UNTUK KAKEK

bertahun telah kulukis rindu
di hamparan jarum ilalang, yang menusuk aku
merontaronta untuk segera menguburkan cendera

aku, yang teringat sosok renta
dengannya ku berjalan kemari
di tanah padang yang sepoi angin mengusik daun berjatuhan

bila ku berjalan agak jauh
ia selalu berteriak;
“jangan kesana, nanti ada begu!”
dan aku pun segera berlari mengejar pangkuannya yang lamur

tanpa sadar,
bunyi di kantong celananya segera mengusikku
namun, ia malah mengelus rambutku
sesekali mendehem, tinggalkan cangklong tuanya

bilangan waktu yang berumur
telah kembali menuntunku ke tanah ilalang
mengucap salam setiap rumput kering—padaku
kata mereka; “senang berteman dengan kakek”

disini, di tanah padang ini
dalam ulang tahun yang sepi
ku letakkan cangklong baru, di sisi nisan kakek
dengan segurat senyum yang mengepal
“masihkah kakek mau mengajakku bermain lagi,”

Rumah Cinta-Padang, Januari 2007

kerinduan pada sosok Pram,

KUBUR KACA (II)

Agustus 1945

di pertengahan musim ini
jiwajiwa berdetak,
surut,
takut.

diorama pagi
mengawal pusaka
dengan ketikan harapan
di hadap kubur paksa
bangsa...

Gedung F. 2,1 UNAND, November 2006

JEJAK PENANTIAN

I
Dari Narathiwat,
kau berjalan.
entah apa yang kau rindukan

mungkin desah waktu kereta
yang mengalun
yang membuat jiwamu gundah
untuk sebuah kata “persahabatan”

Namun,
apa yang bisa kau harapkan
dari secuil demokrasi
yang tergores kudeta sejarah yang
memilukan

Apa yang bisa kau buktikan,
dari secuil kerangka fatamorgana
bernama
“kebahagiaan?”

II
Aku pun turut berjalan
dari sisi-mu yang disebelah

Aku pun menunggu,
desah raung kereta yang telah
terlambat pula rupanya

ya,
desah-desah itu pula yang selalu
kurindukan

dalam masa-masa teduh
ataupun masa-masa suram
seperti sekarang.

III
baiklah kawan,
kita sama-sama berjalan

dalam waktu yang sama tentunya

Dan tentu pula,
berharap sesuatu yang wah,
dari sebuah masa

sambil terus berharap
ada seorang Mesias,
yang turun secepatnya

dan menyelamatkan kita
dari keserakahan ini,

IV
Aku kembali berjalan
kau pun juga

mengarungi Drina hingga Gangga

untuk tetap mencari,
Isa yang dinanti.

KaranggoNet, Oktober 2006

Posted in Budaya dan Sastra printer friendly version

Submitted by Sayyid Madany Syani on February 15, 2007 - 19:14.

Tomie Ayatullah...

boleh join...ya!!!
moga ada TANGGAPAN DAN SYAIR DADAKAN IKHWAN-AKHWAN

Aku tahu engkau merasakan. Aku tidak perlu tahu apa yang kamu rasakan. Ini bahasa hati. Bahasa dunia batinku. Kalau boleh aku jujur, aku utuh denganmu. Utuh. Tapi resapan di sana membuat ketundukan.
Aku tahu. Aku tahu.
mendadak semua menjadi asing
asing.
adakah percikan di tengah gelap?
adakah ini sebentuk keterasingan?
aku meragukan wajahku tak tertelungkup
sendirian memintal kedai kopi
kopi mengental tak terminum
membening.

aduhai semua, maaf
maafkan.

jalur awan beriring ke arah utara
dari utara ia tampak di selatan
menitik tanpa batas
nol-nya terkatup.
jiwa-jiwa rusuh mengurai-urai
uraian-nya menggema di telinga
ribuan senja menunduk
dan pagi pergi melaut
merajuk.

Bagaimana harus berucap
Titahkan bahasa

Aku malu
Malu
Malu kepada-Mu

Darimana datangnya ilusi
Hingga.
Mungkin benar. Raut-Mu tegar menegak. Aku percaya. Aku percaya.
Adakah senyap mengadu?
tipis menjejak setapak
galau membentuk rajutan simponi

kala kesendirian
di sanakah letak ucapan terucap?
bicara pada mesiu berdebu
debu
berdebu-debu.
Berdebu-debu engkau-Mu
Debu-Mu berdebu
debu-ku tipis
tipis-Mu meragu
adakah wilayah bersemayam?

Di senja yang terik aku menemukan mereka berdiam
dikilauan gelap aku ditunggu
kesepian mengelap basahnya embun

mereka tersenyum-senyum mendebu yang berdebu
derap kaki kuda mereka tak senyap
hapuskan debu
tiba-tiba semua berbentuk kabut
badai memperkenalkan sebentuk bongkahan besi

Tomie Ayatullah...

boleh join...ya!!!
moga ada TANGGAPAN DAN SYAIR DADAKAN IKHWAN-AKHWAN

Aku tahu engkau merasakan. Aku tidak perlu tahu apa yang kamu rasakan. Ini bahasa hati. Bahasa dunia batinku. Kalau boleh aku jujur, aku utuh denganmu. Utuh. Tapi resapan di sana membuat ketundukan.
Aku tahu. Aku tahu.
mendadak semua menjadi asing
asing.
adakah percikan di tengah gelap?
adakah ini sebentuk keterasingan?
aku meragukan wajahku tak tertelungkup
sendirian memintal kedai kopi
kopi mengental tak terminum
membening.

aduhai semua, maaf
maafkan.

jalur awan beriring ke arah utara
dari utara ia tampak di selatan
menitik tanpa batas
nol-nya terkatup.
jiwa-jiwa rusuh mengurai-urai
uraian-nya menggema di telinga
ribuan senja menunduk
dan pagi pergi melaut
merajuk.

Bagaimana harus berucap
Titahkan bahasa

Aku malu
Malu
Malu kepada-Mu

Darimana datangnya ilusi
Hingga.
Mungkin benar. Raut-Mu tegar menegak. Aku percaya. Aku percaya.
Adakah senyap mengadu?
tipis menjejak setapak
galau membentuk rajutan simponi

kala kesendirian
di sanakah letak ucapan terucap?
bicara pada mesiu berdebu
debu
berdebu-debu.
Berdebu-debu engkau-Mu
Debu-Mu berdebu
debu-ku tipis
tipis-Mu meragu
adakah wilayah bersemayam?

Di senja yang terik aku menemukan mereka berdiam
dikilauan gelap aku ditunggu
kesepian mengelap basahnya embun

mereka tersenyum-senyum mendebu yang berdebu
derap kaki kuda mereka tak senyap
hapuskan debu
tiba-tiba semua berbentuk kabut
badai memperkenalkan sebentuk bongkahan besi

Copyright © ukhuwah.or.id, 2007. All Rights Reserved

Tidak ada komentar: