Kamis, 18 September 2008

kapan aku totalitas?

kapan?
hasrat sudah menggebu

tapi aku masih lemah
belum cukup bekal ke sana
hanya mmimpi dan mimpi saja

kapan?
akh
tak tahu aku
yang pasti
waktu itu kan datang jua

kecewa?

iya
aku kecewa

terjebak?
ya
aku kembali terjebak

terjebak diriku sendiri
kembali ke arah sepi
tapi terpaksa
bukannya memilih

yaa!
harusnya sepi itu kupilih!
karna ku punya kuasa

yaa!
harusnya hati ini kukunci
tapi malah semakin tercuri

lalu
aku urung?
ataukah murung
merenung
tuk kembali bertarung?
bergelut dengan tawa semu
dan canda itu?

Minggu, 14 September 2008

memang...

hanya cinta memang
yang mampu menggerakan ribuan manusia
dengan segala keluh kesahnya

hanya cinta memang
yang mempu mencengkeram luasnya
hati manusia

hanya cinta memang
yang mampu membutakan jiwa akan derita
dan lebih memilih menguak suka cita

hanya cinta memang
yang mampu menarik langkah menuju jalan terjal berliku
dan mengenyahkan rayuan dunia nan semu

hanya cinta memang
tapi begitu banyak yang mengaku cinta
cuma satu yang bisa

carilah dia
hampirilah dia
dengan dekapan air mata
dengan desiran derita pengorbanan
tanpa semuanya
kau hanya menemukan tipu daya semata

Sabtu, 13 September 2008

Yang Berjatuhan di Jalan Dakwah

Bentuk-bentuk Jatuh di Jalan Dakwah
  • Menjadi lambat, kurang kontribusi, kurang produktif
  • Menjadi pasif dan tidak berbuat apa-apa
  • Menarik diri dari lingkaran dakwah
  • Menjadi benci terhadap dakwah
  • Berbalik memusuhi dan memerangi dakwah
Itulah beberapa indikasi jatuhnya seseorang di jalan dakwah, mulai dari indikasi yang ringan sampai pada yang paling berat.
Fenomena berjatuhan di jalan dakwah adalah fenomena yang hampir selalu ada. Siapakah yang dirugikan dari fenomena ini? Dakwah? Sampai batas-batas tertentu, bisa jadi. Akan tetapi, yang sebetulnya dirugikan adalah sang aktivis dakwah yang terjatuh tersebut.
Dakwah itu ibarat gerbong kereta yang mengangkut para aktivisnya sebagai penumpang. Jika ada seseorang yang tertinggal dari gerbong, akan ada saja orang lain yang menggantikan kursi tempat duduknya. Tertinggalnya orang tersebut hampir tidak berpengaruh pada dakwah. Sebaliknya, yang tertinggal itulah yang menjadi rugi. Relakah kita menjadi orang yang tertinggal itu?
Orang-orang yang jatuh di jalan dakwah bisa juga diibaratkan seperti daun-daun yang berguguran dari sebuah pohon yang rindang dan lebat daunnya. Itulah 'pohon dakwah'. Dedaunan yang jatuh berguguran itu sama sekali tidak merugikan pohon besar tersebut. Justru, dedaunan yang gugur itulah yang menjadi binasa karena ia akan menjadi kering dan hancur karena tidak lagi bisa mendapatkan suplai makanan dari pohon. Relakah kita menjadi daun yang gugur itu?

Selanjutnya, apa sajakah yang bisa menyebabkan seorang aktivis dakwah terjatuh di jalan dakwah? Secara umum, ada 2 sebab: faktor internal dan faktor eksternal.

Karena Faktor Internal

1. Karena semangat menurun

Antisipasi :

  • Senantiasa menjaga kekuatan ruhiyah
  • Membentengi diri dengan ilmu yang kokoh

2. Karena merasa jenuh

Antisipasi :

  • Tidak berlebihan dan ekstrim, menanggung beban yang terlalu berat
  • Melakukan refreshing dan hal-hal yang menghibur diri

3. Karena tidak puas

Antisipasi :

  • Senantiasa ikhlas hanya karena Allah dan tidak menggantungkan harapan dan orientasi kepada selain-Nya

4. Karena tidak bisa memahami dakwah

Antisipasi :

  • Terlibat dan terjun langsung dalam dakwah sehingga memahami realitas
  • Senantiasa mengikuti perkembangan dan dinamika terkini
  • Senantiasa meningkatkan dan mempeluas ilmu dan pemahaman

Karena Faktor Eksternal

1. Karena terbawa oleh lingkungan pergaulan

Antisipasi :

  • Cari lingkungan pergaulan dan teman-teman dekat yang baik
  • Perkuat ketahanan diri (ruhiyah dan ilmu)

2. Karena tekanan dan pengaruh keluarga

Antisipasi :

  • Membangun komunikasi dan hubungan yang baik dengan keluarga
  • Berusaha untuk berdakwah dalam keluarga dengan cara yang sebaik-baiknya
  • Memiliki ”keluarga kedua”

3. Karena terbuai oleh kenikmatan dunia

Antisipasi :

  • Perkuat ketahanan diri (ruhiyah dan ilmu)
  • Memiliki tameng diluar diri kita (orang-orang yang bisa menjaga diri kita, bentuk-bentuk kenikmatan tandingan yang syar’i)

4. Karena tidak kuat menghadapi tekanan kehidupan

Antisipasi :

  • Memantapkan pilar-pilar kehidupan
  • Perkuat ketahanan diri
  • Perhatian dan bantuan dari saudara-saudaranya

5. Karena tidak kuat menghadapi intimidasi

Antisipasi :

  • Perkuat ketahanan diri
  • Mempersenjatai diri
  • Pembelaan dan dukungan dari saudara-saudaranya

6. Karena perselisihan atau konflik dengan saudaranya

Antisipasi :

  • Senantiasa menjaga adab-adab dan akhlaq-akhlaq mu’amalah dengan saudara-saudaranya
  • Memiliki hati yang lapang
  • Adanya peredam bibit-bibit perselisihan dan konflik

(sumber:menaraislam.com)

Selasa, 09 September 2008

sehati

Tentu kau pernah dengar alasan ibunda yang memiliki firasat yang jarang meleset pada anaknya. Kau mungkin kerap melihat dua insan yang terikat cinta kan merasakan sakit dan gembira bersama, meski berjauhan tempatnya. Dalam kekhawatiran salah satunya, yang lain kan merasa getir yang makin memuncak. Dalam hampa salah satunya, yang lain kan merasa perlu bergegas mendekat. Maka, tidakkah kau merasa aneh kenapa itu terjadi?

Sehati... Kadang hanya kata ini saja yang terungkap begitu saja jika membayangkan alasan yang mungkin ada. Ketika ibuku bertanya dan khawatir akan kesehatanku, aku memang sedang tak beruntung dengan tubuhku. Ketika aku tersungkur penuh peluh, ibunda pun hadir dalam kiriman hangatnya perhatian.

Sehati... Kadang kata ini saja yang bisa menggambarkan begitu serasinya kejadian di dunia ini.

Khutbah Rasulullah Menyambut Ramadhan

Selain memerintah shaum, dalam menyambut menjelang bulan Ramadhan, Rasulullah selalu memberikan beberapa nasehat dan pesan-pesan. Inilah ‘azimat’ Nabi tatkala memasuki Ramadhan.

Wahai manusia! Sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia disisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama.

Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-NYA. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya.

Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu di hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan masakin. Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambungkanlah tali persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarnya. Kasihilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu. Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih; Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya dan mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.

Wahai manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa) mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu.

Ketahuilah! Allah ta’ala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengazab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri di hadapan Rabb al-alamin.

Wahai manusia! Barang siapa di antaramu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu. (Sahabat-sahabat lain bertanya: “Ya Rasulullah! Tidaklah kami semua mampu berbuat demikian.”

Rasulullah meneruskan: “Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan seteguk air.”

Wahai manusia! Siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini ia akan berhasil melewati sirathol mustaqim pada hari ketika kai-kaki tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari kiamat. Barangsiapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barangsiapa melakukan shalat fardu baginya ganjaran seperti melakukan 70 shalat fardu di bulan lain. Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Quran pada bulan-bulan yang lain.

Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu. Amirul mukminin k.w. berkata: “Aku berdiri dan berkata: “Ya Rasulullah! Apa amal yang paling utama di bulan ini?” Jawab Nabi: “Ya Abal Hasan! Amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah”.

Wahai manusia! sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkahan, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan; bulan yang Allah telah menjadikan puasanya suatu fardhu, dan qiyam di malam harinya suatu tathawwu’.”

“Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu pekerjaan kebajikan di dalamnya, samalah dia dengan orang yang menunaikan suatu fardhu di dalam bulan yang lain.”

“Ramadhan itu adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu adalah pahalanya surga. Ramadhan itu adalah bulan memberi pertolongan ( syahrul muwasah ) dan bulan Allah memberikan rizqi kepada mukmin di dalamnya.”

“Barangsiapa memberikan makanan berbuka seseorang yang berpuasa, adalah yang demikian itu merupakan pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka. Orang yang memberikan makanan itu memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tanpa sedikitpun berkurang.”

Para sahabat berkata, “Ya Rasulullah, tidaklah semua kami memiliki makanan berbuka puasa untuk orang lain yang berpuasa. Maka bersabdalah Rasulullah saw, “Allah memberikan pahala kepada orang yang memberi sebutir kurma, atau seteguk air, atau sehirup susu.”

“Dialah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya pembebasan dari neraka. Barangsiapa meringankan beban dari budak sahaya (termasuk di sini para pembantu rumah) niscaya Allah mengampuni dosanya dan memerdekakannya dari neraka.”

“Oleh karena itu banyakkanlah yang empat perkara di bulan Ramadhan; dua perkara untuk mendatangkan keridhaan Tuhanmu, dan dua perkara lagi kamu sangat menghajatinya.”

“Dua perkara yang pertama ialah mengakui dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan mohon ampun kepada-Nya . Dua perkara yang kamu sangat memerlukannya ialah mohon surga dan perlindungan dari neraka.”

“Barangsiapa memberi minum kepada orang yang berbuka puasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari air kolam-Ku dengan suatu minuman yang dia tidak merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk ke dalam surga.” (HR. Ibnu Huzaimah).

sumber: Hidayatullah.com

Sabtu, 06 September 2008

Puisi-puisi Sayyid Madany Syani

CANGKLONG UNTUK KAKEK

bertahun telah kulukis rindu
di hamparan jarum ilalang, yang menusuk aku
merontaronta untuk segera menguburkan cendera

aku, yang teringat sosok renta
dengannya ku berjalan kemari
di tanah padang yang sepoi angin mengusik daun berjatuhan

bila ku berjalan agak jauh
ia selalu berteriak;
“jangan kesana, nanti ada begu!”
dan aku pun segera berlari mengejar pangkuannya yang lamur

tanpa sadar,
bunyi di kantong celananya segera mengusikku
namun, ia malah mengelus rambutku
sesekali mendehem, tinggalkan cangklong tuanya

bilangan waktu yang berumur
telah kembali menuntunku ke tanah ilalang
mengucap salam setiap rumput kering—padaku
kata mereka; “senang berteman dengan kakek”

disini, di tanah padang ini
dalam ulang tahun yang sepi
ku letakkan cangklong baru, di sisi nisan kakek
dengan segurat senyum yang mengepal
“masihkah kakek mau mengajakku bermain lagi,”

Rumah Cinta-Padang, Januari 2007

kerinduan pada sosok Pram,

KUBUR KACA (II)

Agustus 1945

di pertengahan musim ini
jiwajiwa berdetak,
surut,
takut.

diorama pagi
mengawal pusaka
dengan ketikan harapan
di hadap kubur paksa
bangsa...

Gedung F. 2,1 UNAND, November 2006

JEJAK PENANTIAN

I
Dari Narathiwat,
kau berjalan.
entah apa yang kau rindukan

mungkin desah waktu kereta
yang mengalun
yang membuat jiwamu gundah
untuk sebuah kata “persahabatan”

Namun,
apa yang bisa kau harapkan
dari secuil demokrasi
yang tergores kudeta sejarah yang
memilukan

Apa yang bisa kau buktikan,
dari secuil kerangka fatamorgana
bernama
“kebahagiaan?”

II
Aku pun turut berjalan
dari sisi-mu yang disebelah

Aku pun menunggu,
desah raung kereta yang telah
terlambat pula rupanya

ya,
desah-desah itu pula yang selalu
kurindukan

dalam masa-masa teduh
ataupun masa-masa suram
seperti sekarang.

III
baiklah kawan,
kita sama-sama berjalan

dalam waktu yang sama tentunya

Dan tentu pula,
berharap sesuatu yang wah,
dari sebuah masa

sambil terus berharap
ada seorang Mesias,
yang turun secepatnya

dan menyelamatkan kita
dari keserakahan ini,

IV
Aku kembali berjalan
kau pun juga

mengarungi Drina hingga Gangga

untuk tetap mencari,
Isa yang dinanti.

KaranggoNet, Oktober 2006

Posted in Budaya dan Sastra printer friendly version

Submitted by Sayyid Madany Syani on February 15, 2007 - 19:14.

Tomie Ayatullah...

boleh join...ya!!!
moga ada TANGGAPAN DAN SYAIR DADAKAN IKHWAN-AKHWAN

Aku tahu engkau merasakan. Aku tidak perlu tahu apa yang kamu rasakan. Ini bahasa hati. Bahasa dunia batinku. Kalau boleh aku jujur, aku utuh denganmu. Utuh. Tapi resapan di sana membuat ketundukan.
Aku tahu. Aku tahu.
mendadak semua menjadi asing
asing.
adakah percikan di tengah gelap?
adakah ini sebentuk keterasingan?
aku meragukan wajahku tak tertelungkup
sendirian memintal kedai kopi
kopi mengental tak terminum
membening.

aduhai semua, maaf
maafkan.

jalur awan beriring ke arah utara
dari utara ia tampak di selatan
menitik tanpa batas
nol-nya terkatup.
jiwa-jiwa rusuh mengurai-urai
uraian-nya menggema di telinga
ribuan senja menunduk
dan pagi pergi melaut
merajuk.

Bagaimana harus berucap
Titahkan bahasa

Aku malu
Malu
Malu kepada-Mu

Darimana datangnya ilusi
Hingga.
Mungkin benar. Raut-Mu tegar menegak. Aku percaya. Aku percaya.
Adakah senyap mengadu?
tipis menjejak setapak
galau membentuk rajutan simponi

kala kesendirian
di sanakah letak ucapan terucap?
bicara pada mesiu berdebu
debu
berdebu-debu.
Berdebu-debu engkau-Mu
Debu-Mu berdebu
debu-ku tipis
tipis-Mu meragu
adakah wilayah bersemayam?

Di senja yang terik aku menemukan mereka berdiam
dikilauan gelap aku ditunggu
kesepian mengelap basahnya embun

mereka tersenyum-senyum mendebu yang berdebu
derap kaki kuda mereka tak senyap
hapuskan debu
tiba-tiba semua berbentuk kabut
badai memperkenalkan sebentuk bongkahan besi

Tomie Ayatullah...

boleh join...ya!!!
moga ada TANGGAPAN DAN SYAIR DADAKAN IKHWAN-AKHWAN

Aku tahu engkau merasakan. Aku tidak perlu tahu apa yang kamu rasakan. Ini bahasa hati. Bahasa dunia batinku. Kalau boleh aku jujur, aku utuh denganmu. Utuh. Tapi resapan di sana membuat ketundukan.
Aku tahu. Aku tahu.
mendadak semua menjadi asing
asing.
adakah percikan di tengah gelap?
adakah ini sebentuk keterasingan?
aku meragukan wajahku tak tertelungkup
sendirian memintal kedai kopi
kopi mengental tak terminum
membening.

aduhai semua, maaf
maafkan.

jalur awan beriring ke arah utara
dari utara ia tampak di selatan
menitik tanpa batas
nol-nya terkatup.
jiwa-jiwa rusuh mengurai-urai
uraian-nya menggema di telinga
ribuan senja menunduk
dan pagi pergi melaut
merajuk.

Bagaimana harus berucap
Titahkan bahasa

Aku malu
Malu
Malu kepada-Mu

Darimana datangnya ilusi
Hingga.
Mungkin benar. Raut-Mu tegar menegak. Aku percaya. Aku percaya.
Adakah senyap mengadu?
tipis menjejak setapak
galau membentuk rajutan simponi

kala kesendirian
di sanakah letak ucapan terucap?
bicara pada mesiu berdebu
debu
berdebu-debu.
Berdebu-debu engkau-Mu
Debu-Mu berdebu
debu-ku tipis
tipis-Mu meragu
adakah wilayah bersemayam?

Di senja yang terik aku menemukan mereka berdiam
dikilauan gelap aku ditunggu
kesepian mengelap basahnya embun

mereka tersenyum-senyum mendebu yang berdebu
derap kaki kuda mereka tak senyap
hapuskan debu
tiba-tiba semua berbentuk kabut
badai memperkenalkan sebentuk bongkahan besi

Copyright © ukhuwah.or.id, 2007. All Rights Reserved